“Dayakan bisa
diperkirakan merupakan pengembangan dari kesenian kobra siswa. Dilihat dari
kemiripan ubo rambe gamelan utama yang digunakan, seperti bedug/drum, dan bende
nampak sekali kesamaannya. Ditinjau dari lagu pengiring yang dinyanyikanpun ada
kemiripannya dimana banyak diperdengarkan lagu-lagu bertemakan dakwah, di
samping lagu-lagu nasional, mocopatan, dan campur sari modern.”
“Hanya saja
memang terdapat sedikit modifikasi dalam hal formasi dan tata cara berbaris
yang lebih dinamis dan tanpa pakem yang kaku seperti dalam kobra. Penambahan
pengiring seperti organ, siter atau kecapi semakin menambah dinamisasi seni
dayakan. Namun satu yang pasti dapat dilihat secara kasat mata, ya di perbedaan
kostum itu tadi.”
Salah satu properti
yang cukup berperan dalam struktur penyajian tarian ini adalah kerincing yang
dipakai penari. Berdasarkan suara yang dihasilkan sangat berpengaruh terhadap
psikologi pemain, di mana pemain
merasakan kepuasan, berpengaruh keseriusan ekspresi gerak – emosional, serta
suasana meriah atau rame dalam pertunjukan.
Berdasarkan bentuk
fisik – artistik – pada kerincing, tanpa ada aturan yang baku, dalam faktanya
telah terdapat standarisasi yang dianut para pelaku kesenian yaitu kerincing
yang dipakai memenuhi dari pergelangan kaki hingga lutut penari. Kerincing ini
dirangkai dari 70 sampai ratusan biji kerincing dengan menggunakan alas spon.
Mengamati properti
kerincing yang demikian hingga dapat dinikmati dan dirasakan para penari, maka
dalam benda tersebut merupakan unsur yang mengandung keindahan. “…keindahan
adalah suatu kumpulan hubungan yang selaras dalam suatu benda dan di antara
benda itu dengan si pengamat”
Karena definisi keindahan dari para filsuf dan
anggapan banyak orang yang berbeda-beda, hal ini merupakan problem semantik
modern yang tidak ada satu jawaban yang benar. Untuk menelaah keindahan
tersebut lebih tepatnya adalah menggunakan salah satu cabang filsafat yang
memperhatikan atau berhubungan dengan gejala yang indah pada alam dan seni,
yaitu estetika. Di dalamnya menyangkut bahasan ilmiah berkaitan dengan karya
seni, sehingga merupakan lingkup bahasan ilmiah. Dalam estetik modern, orang
lebih banyak berbicara tentang seni dan pengalaman estetik, karena ini bukan
pengertian abstrak melainkan gejala yang konkrit dan dapat ditelaah dengan pengamatan
empiris serta penguraian yang sistematis. Dengan
demikian, dalam pembahasan ini penulis akan menelaah nilai-nilai
estetis kerincing dalam tari Topeng Ireng.
Deskripsi
Obyek
Kerincing merupakan
suatu properti yang umumnya dipakai pada pergelangan kaki penari dalam
tari-tarian. Properti ini berbentuk bulat bola dengan memiliki rongga di
dalamnya yang berisi biji logam kecil berukuran ± 0.5 inchi, pada bagian sisi
bawahnya terdapat lubang kecil memanjang yang berfungsi sebagai sirkulasi udara
untuk menghasilkan bunyi yang lebih nyaring. Ukuran diameter kerincing yang
biasa dikenakan dalam tarian rakyat biasanya sekitar 2 - 3 cm. Pada sisi atas
kerincing terdapat lingkaran kecil yang digunakan untuk memasang kerincing pada
tali. Dalam pemakaiannya pada tarian rakyat, biasanya jumlahnya lebih dari satu
kerincing yang di susun dengan tali tersebut. Selain itu, biasanya kerincing
disusun rapi pada kain atau spon yang berfungsi untuk menghindari rasa sakit
pada kulit akibat lecet dari benturan logam kerincing (lihat gambar 1).
Gambar 2. Bentuk
kerincing dan ukurannya yang berbeda-beda.
Kerincing merupakan
properti yang menghasilkan bunyi-bunyian, jika diklasifikasikan berdasarkan bagaimana
properti ini menghasilkan bunyi, kerincing termasuk dalam kategori idiophone dan ditinjau dari bahan
pembuatannya, kerincing terbuat dari bahan baku logam yang berupa kuningan.
Bunyi kerincing ini dihasilkan karena adanya benturan dengan benda lain. Ketika
benturan ini terjadi, biji logam di dalam kerincing juga akan mengalami
benturan serta pantulan di dalam rongga, sehingga dalam proses ini menghasilkan
getaran-getaran yang menimbulkan bunyi.
Karena kekuatan tekanan benturan, pantulan biji logam, serta frekuensi
semua kerincing yang berbeda-beda, maka waktu getaran yang dihasilkanpun tidak
beraturan dalam menghasilkan bunyi; jelas bersama-sama saat terjadi tekanan
atau benturan, dan bunyi ekor akibat getaran-getaran bunyi yang berbeda-beda
setelah terjadi tekanan dan benturan. Sehingga, ketika terjadi tekanan dan
benturan berulang-kali, maka tiap-tiap kerincing waktu getaran menghasilkan
bunyi berbeda antara satu dengan yang lain dengan istilah lain kemrincing.
Pembahasan
“Nilai
estetis pada umumnya kini diartikan sebagai kemampuan dari suatu benda untuk
menimbulkan suatu pengalaman estetis.Pengalaman
estetika dari seseorang merupakan persoalan psikologis, di mana seseorang tidak
lagi hanya membahas sifat-sifat yang merupakan kualita benda estetik, melainkan
juga menelaah kualitas abstrak dari benda estetis, terutama usaha menguraikan
dan menjelaskan secara cermat dan lengkap dari semua gejala psikologis yang
berhubungan dengan karya seni.
Untuk menelaah nilai
estetis kerincing, yang lebih relevan adalah berdasarkan pengalaman estetis
para pelaku kesenian Topeng Ireng tersebut, di mana para pelaku – subyek –
telah memiliki pengalaman estetik dari benda seni tersebut dalam proses
berkeseniannya yang telah dilakukan selama ini.
“…,
teori subjektif menyatakan bahwa ciri-ciri yang menciptakan keindahan pada
suatu benda tidak ada. Yang ada hanyalah tanggapan perasaan dalam diri
seseorang yang mengamati suatu benda. Adanya keindahan semata-mata tergantung
pada pencerapan dari si pengamat itu. Kalaupun dinyatakan bahwa sesuatu benda
mempunyai nilai estetis, hal ini berarti bahwa seseorang pengamat memperoleh
suatu pengalaman estetis sebagai tanggapan terhadap benda itu.”
“Apa yang indah dari kerincing, mengapa
benda ini memiliki keindahan, dan kenapa bisa indah?” pertanyaan ini adalah
rumusan dari permasalahan penulis terhadap persoalan estetis kerincing, di mana
keindahan tersebut masih bersifat abstrak tanpa ada penjelasan yang mendetail
mengenai persoalalan keindahan tersebut. Di luar latar belakang kebudayaan yang
berbeda, tentunya orang masih belum bisa merasakan keindahan dari benda
tersebut. ”Nilai budaya daerah tentu saja bersifat
partikularistik, artinya khas berlaku umum dalam wilayah budaya suku
bangsa tertentu.”
Keindahan pada dasarnya
adalah sejumlah kualita pokok yang sering disebut; kesatuan (unity),
keselarasan (harmony), kesetangkupan (symmetry), keseimbangan (balance), dan
perlawanan (contrast).Adanya
ungkapan rasa keindahan dan pengaruh psikologis yang dialami para pelaku
kesenian, hal ini merupakan tanggapan keindahan terhadap benda seni tersebut
yang tentunya karena adanya pengalaman estetikyang telah mereka peroleh.
Berikut ini adalah
hasil wawancara dengan penari Topeng Ireng kelompok ‘Elang Kawedar’ dari Dk.
Selo Tengah, Ds. Selo, Kec. Selo, Kab. Boyolali, yang menurutnya:
“Perbedaan antara menggunakan kerincing dan tidak,
sangat berbeda sekali. Kalau gak memakai tampangnya wagu, terus kalau gak
memakai keroncong kan gak rame, terus biasanya kalau menari memakai keroncong
terus gak memakai tu perbedaannya sangat terasa sekali di kaki, terus suara
yang rame itu menambah greget di hati pemain. Selain itu, juga dapat mengkondisikan
emosi pemain untuk tetap menari dan bermusik dengan serius, memberi gebrakan
kepada penonton dengan bunyi-bunyian yang rame, serta memberi kepuasan dan
kesemangatan tersendiri bagi para pemain”
.jpg)


